PENTINGKAH
PEKA TERHADAP DIRI SENDIRI?
Setiap
orang pasti memiliki kesalahan terhadap orang lain. tetapi terkadang kesalahan
itu tidak disadari oleh pelaku sehingga apa yang diperbuatnya dianggap benar
oleh pelaku, tetapi tidak untuk orang lain.
disini,
peka adalah rasa yang perlu ada pada diri masing-masing individu.
Memang
tidak mudah, tapi itulah kenyataannya. dalam hal ini terutama untuk menjadikan
diri menjadi lebih baik dengan menyadari kesalahan-kesalahan yang ada pada diri
sendiri.
Untuk
mengungkap kesalahan diri, memang tidak mudah. Jauh lebih mudah mengungkap
kesalahan orang lain. Dalam hal ini, apa yang diungkap orang lain menjadi tolok
ukur kesalahan diri sendiri.
Sekarang
pertanyaannya, apakah orang lain yang menilai paham tentang diri kita?
Apakah
mereka telah mampu menilai diri mereka sendiri sehingga dapat menilai orang
lain yang hanya mereka lihat dari sisi luarnya saja?
Apakah mereka
benar-benar mengetahui kalau apa yang kita lakukan sebagai kesalahan?
Apakah mereka
mengetahui maksud dari apa yang telah kita lakukan?
Bisa dibilang
orang yang selalu menilai orang lain dari sisi luarnya tetapi tidak mampu
menilai diri sendiri bisa dibilang orang yang sok tahu!
Tetapi tidak
semua yang ia katakana itu salah atau benar. Kita harus sadar diri, perlu ada
koreksi terhadap diri kita? Apa benar aku seperti itu? Kalau iya, berarti dia
telah mampu menilaimu, tetapi kalau tidak, berarti dia gagal menilaimu. Dan orang
ini yang dapat dibilang sok tau!
Orang yang
seperti itu biasanya mendengar berita tentang kesalahan kita dari orang lain
juga, atau dia yang menilai sendiri. Karena suatu pernyataan yang dikatakan
orang banyak (opini) itu bisa menyatakan sesuatu yang sebenarnya tidak
benar-benar terjadi.
Contoh yang
paling sering ditemui adalah orang-orang yang mengerumpi untuk membicarakan
kesalahan orang lain. Akibanya, pendapat dari salah seorang akan diperkuat
dengan pernyataan yang difaktakan, sehingga seakan-akan pernyataan itu menjadi
objektif terhadap apa yang mereka bicarakan, padahal hakikatnya tetap saja
bersifat subjektif waaupun tidak disadari, sehingga apabila isebarluaskan,
pernyataan itu akan mudah dipercaya karena banyak yang sudah mempercayainya.
Boleh dikatakan
bahwa, mulut itu lebih tajam daripada pedang, karena dengan mulut, sakit yang dialami belum tentu dapat disembuhkan.
Untuk itu, hati-hati dengan mulut kita, dan mulai
perbaiki diri dengan peka terhadap diri sendiri dan berusahalah untuk tidak
menilai orang lain apabila belum tahu kebenarannya serta belum bisa mengenal
diri masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar