Sabtu, 20 September 2014

PENTINGKAH PEKA TERHADAP DIRI SENDIRI?


PENTINGKAH PEKA TERHADAP DIRI SENDIRI?

Setiap orang pasti memiliki kesalahan terhadap orang lain. tetapi terkadang kesalahan itu tidak disadari oleh pelaku sehingga apa yang diperbuatnya dianggap benar oleh pelaku, tetapi tidak untuk orang lain. 
disini, peka adalah rasa yang perlu ada pada diri masing-masing individu.
Memang tidak mudah, tapi itulah kenyataannya. dalam hal ini terutama untuk menjadikan diri menjadi lebih baik dengan menyadari kesalahan-kesalahan yang ada pada diri sendiri. 
Untuk mengungkap kesalahan diri, memang tidak mudah. Jauh lebih mudah mengungkap kesalahan orang lain. Dalam hal ini, apa yang diungkap orang lain menjadi tolok ukur kesalahan diri sendiri.
Sekarang pertanyaannya, apakah orang lain yang menilai paham tentang diri kita?
Apakah mereka telah mampu menilai diri mereka sendiri sehingga dapat menilai orang lain yang hanya mereka lihat dari sisi luarnya saja?
Apakah mereka benar-benar mengetahui kalau apa yang kita lakukan sebagai kesalahan?
Apakah mereka mengetahui maksud dari apa yang telah kita lakukan?
Bisa dibilang orang yang selalu menilai orang lain dari sisi luarnya tetapi tidak mampu menilai diri sendiri bisa dibilang orang yang sok tahu!
Tetapi tidak semua yang ia katakana itu salah atau benar. Kita harus sadar diri, perlu ada koreksi terhadap diri kita? Apa benar aku seperti itu? Kalau iya, berarti dia telah mampu menilaimu, tetapi kalau tidak, berarti dia gagal menilaimu. Dan orang ini yang dapat dibilang sok tau!
Orang yang seperti itu biasanya mendengar berita tentang kesalahan kita dari orang lain juga, atau dia yang menilai sendiri. Karena suatu pernyataan yang dikatakan orang banyak (opini) itu bisa menyatakan sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi.
Contoh yang paling sering ditemui adalah orang-orang yang mengerumpi untuk membicarakan kesalahan orang lain. Akibanya, pendapat dari salah seorang akan diperkuat dengan pernyataan yang difaktakan, sehingga seakan-akan pernyataan itu menjadi objektif terhadap apa yang mereka bicarakan, padahal hakikatnya tetap saja bersifat subjektif waaupun tidak disadari, sehingga apabila isebarluaskan, pernyataan itu akan mudah dipercaya karena banyak yang sudah mempercayainya.
Boleh dikatakan bahwa, mulut itu lebih tajam daripada pedang, karena dengan mulut, sakit yang  dialami belum tentu dapat disembuhkan.

Untuk itu, hati-hati dengan mulut kita, dan mulai perbaiki diri dengan peka terhadap diri sendiri dan berusahalah untuk tidak menilai orang lain apabila belum tahu kebenarannya serta belum bisa mengenal diri masing-masing.  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar